Rabu, 17 Februari 2021

TOPIK: TOEFL nya Korea, dalam Rangka Iseng-Iseng

Berawal dari keranjingan nonton drama dan berbagai hiburan korea yang berujung pada keresahan, akhirnya saya memutuskan untuk ikutan tes TOPIK. 

kok resah?  

Saya lupa awalnya gimana bisa tertarik dan tau cara tes TOPIK (yang waktu itu pun saya belum tau namanya TOPIK). Yang saya ingat, saya peranah bertanya kepada sepupu saya yang pernah bekerja di lembaga kursus bahasa korea (KO*SA). Dia cerita kalau tes TOPIK itu tempatnya di JIKS (Jakarta Indonesia-Korean School? ya pokoknya gitu), di daerah Ceger-Jakarta Timur. Selain lokasi tes nya yang hanya sedikit di Indonesia, TOPIK juga cukup jarang diadakan. Ya setidaknya, tidak se-sering TOEFL baik frekuensi maupun pelaksananya. 

Saya kemudian disarankan untuk mengecek web topik korea untuk mencari informasi jadwal tes nya disini jadwal topik. Benar saja, tahun 2019 hanya diadakan 5 kali di Asia. Waktu itu jadwal terdekatnya adalah TOPIK 63rd. Saya cukup beruntung karena hampir telat dari jadwal pendaftaran. TOPIK 63rd adalah jadwal TOPIK pertama tahun 2019 yang diadakan di Asia. Pendaftarannya bulan Januari selama sepekan, dan tesnya baru bulan April. Waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan dengan baik. 
 
Pendaftaran Tes 
 
Pendaftaran dilakukan secara offline, yaitu langsung mendatangi lokasi tes terdekat. Di Jakarta dan sekitarnya, tes maupun pendaftaran TOPIK dilaksanakan di JIKS. Berdasarkan informasi yang saya baca dari para pendahulu peserta tes TOPIK, katanya di Bandung dan Jogja juga ada. 

Saya datang mendaftar di hari terakhir pendaftaran. Kali itu adalah pertama kali saya datang ke JIKS. Dari depan sekolah, ada gerbang pertahanan(?) pertama yang fungsinya lebih ke gerbang untuk parkiran. Di gerbang depan sudah ada satpam, dan sudah hapal betul sepertinya dengan orang-orang yang ingin daftar TOPIK. Saya kemudian diarahkan ke gerbang/pos satpam berikutnya. 

Di gerbang selanjutnya, kita akan diminta menulis data diri, diminta menyerahkan ID card (KTP/SIM?sejenisnya), kemudian diberikan ID Card tamu. akses masuknya tidak se-sembarangan itu. pintu masuknya seperti pintu masuk di stasiun/halte busway. Kalau saya tidak berkepentingan untuk mendaftar TOPIK, rasa-rasanya tidak berkesempatan masuk ke area JIKS. 

Saya kemudian diarahkan ke lokasi pendaftaran, disuruh mengikuti mbak mbak yang datang lebih dulu, tapi masih terjangkau pandangan saya "ikutin (mbak2) yang itu ya!" Dugaan saya, sepertinya hari itu cukup ramai dari hari biasanya. Ya, namanya juga hari terakhir. Sampai di lantai 2, ruang administrasi. Beberapa orang sedang mengisi form. Form pendaftaran sudah disediakan di ruangan. 

Yang perlu disiapkan untuk administrasi pendaftaran 
1. Pas foto 2-3 lembar ukuran 3x4 dan uang pendaftaran. 
2. Biaya pendaftaran, sekitar 200-300 ribu (biaya TOPIK I berbeda dengan TOPIK II)
3. Pastikan bisa menulis nama kita dengan hangeul

Setelah selesai mengisi form, petugas pendaftaran akan mengecek kembali formulir kita termasuk tulisan hangeul pada nama kita. Saya waktu itu ada satu huruf yang typo hehe. Setelah itu tentu saja kita bayar biaya pendaftaran, dibuatkan semacam kartu tes sekaligus tanda lunas. Di kartu tes tercantum jadwal test, termasuk lokasi, waktu daftar ulang, waktu maksimal masuk kelas, dan waktu dimulainya test. 

Dari awal bertanya tanya tentang TOPIK, sepupu saya sudah mewanti wanti bahwa saat tes jangan sampai telat. Karena tidak ada toleransi keterlambatan bahkan jika hanya satu menit. 
 
Pelaksanaan Tes

Tiba di hari pelaksanaan tes, saat saya datang, lokasi sudah ramai. Hampir telat. Saya langsung cek papan pengumuman dan mengecek dimana ruangannya. Laantai 2! Langsung buru buru naik, dan di dalam ruangan ternyata juga kursi peserta tes sudah hampir penuh. Tidak leluasa, tapi saya tetap mencoba maksimal mengamati seisi ruangan. Ruang tes yang digunakan adalah ruang kelas siswa JIKS. Nuansa/desain kelasnya mirip seperti yang kita lihat di drama-drama. hahaha dasar anak drama.
 
Sebelum tes dimulai, pengawas berkeliling untuk mengumpulkan handphone seluruh peserta tes. Ngumpulinnya bukan di keranjang sayur yang bolong bolong ya. Ada semacam koper, yang ada bolong-bolongan(?) tempat nunclepin(?) HP. Ah iya, pengawasnya orang Korea, tapi bisa bahasa Indonesia. Ya, walaupun terbata-bata dan ada beberapa kata yang terdengar aneh.Sebelum tes dimulai, peserta diberikan kesempatan untuk ke toilet terlebih dahulu, karena begitu tes dimulai dan kita izin keluar, maka kita dianggap sudah selesai atau tidak bisa melanjutkan tes. 
 
Sesi pertama dimulai dengan listening, kemudian dilanjutkan dengan reading. Karena yang saya ambil TOPIK I, jadi tidak ada tes writing. Saat tes, kita diberikan alat tulis semacam spidol dua ujung. Ngerti kan maksudnya? ujung yang pertama, tertulis di tutupnya digunakan listening dan reading. Ujung yang lainnya, tertulis di tutupnya untuk writing. Iya, keterangan di tulisannya pakai hangeul (huruf korea).

Menurut saya, baik listening maupun reading, semakin ke belakang pertanyaan nya semakin sulit, soal semakin panjang, dan durasi singkat. Ya dimana mana begitu sih kayaknya ya kalau ujian. Tidak ada istilah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian.


kalau menurut saya, baik listening maupun reading semakin ke belakang pertanyaannya semakin sulit. karena yang didengarkan semakin banyak, dan yang dibaca semakin banyak. sedangkan waktunya kayaknya sama saja. 

 



gua pribadi sering merasa resah. diantara sejibun penikmat hiburan korea, tentu saja banyak pendakwah yang menyeru dan mengingatkan bahwa terlalu keranjingan dengan Hallyu wave itu tidak baik. 
Iya, jadi gua termasuk yang resah dan lebih banyak terpengaruh sama ajakan hijrah dari ex-koreanlovers. Cuma belum bisa sepenuhnya meninggalkan ke-koriya-an ini. 
Sebenernya gue udah lama melakukan trik maupun kiat kiat untuk meninggalkan korea2an. 
mulai dari tahun 2013 gua menghukum diri gua yang bahasa inggrisnya lumayan jeblok ini. pokoknya setiap nonton drama, gua harus pake subtitle inggis. 
oh tidak, tenang saja. tulisan ini bukan untuk mendakwahi kalian para pembaca. tulisan ini cuma mau ceritain tentang tes TOPIK yang baru saya ikuti bulan April lalu. 

Senin, 15 Februari 2021

Beralih ke Menspad, Lupa Kapan Terakhir Kali Beli Pembal*ut Sekali Pakai

 Sampai detik ini, cita-cita untuk bisa menjalani lifestyle zerowaste masih belum pupus. Belum dijalani serius memang, tapi seuprit seuprit udah mulai lah yhaa.. Salah satunya urusan kewanitaan. Yap, urusan yang datang setiap bulan, apalagi kalau bukan datang bulan? Sekitar pertengahan tahun 2020, sepertinya saya perlahan mulai meninggalkan pembalut sekali pakai, dan per 23 Desember, saya resmi mengadopsi 2 Menspad pertama saya. Apa alasannya?

1. Ramah lingkungan 

 Dari kalimat pertama tulisan ini, jelas ini mendukung cita-cita hidup minim sampah. Kalau kata teman kuliah saya, biar ada manfaatnya sedikit jadi sarjana Biologi. Sampah di muka bumi ini sudah banyak. Buanyakkk bahkan. Rasanya bisa mengurangi produksi sampah pribadi saja sudah bagus. Dengan tidak menggunakan pembalut sekali pakai, setidaknya ada sampah bulanan yang kita kurangi.

2. Menspad lebih mudah dicuci 

Sebelum kenal menspad, saya ini satu satunya anggota keluarga perempuan yang sering kali kena hujat karena lupa buang sampah pembalut di kamar mandi. Jadi, dulu kamar mandi di rumah itu ngga ada tempat sampahnya, adanya di luar kamar mandi. ini sebenarnya bukan barang bar. Padahal, pembalutnya sudah saya cuci bersih, sampai warnanya putih lagi. Tetap saja kalau lupa ya langsung kena label "jorok" detik saat ketahuan lupa buang sampah nya.  

Perkara cuci mencuci pembalut sekali pakai ini, saya termasuk yang dididik bahwa pembalut itu memang harus dicuci bersih dulu sebelum dibuang. Loh bukannya memang harus dicuci? Ya, jangan salah. Pernah juga kok di tempat umum saya temukan sampah pembalut yang belum dicuci. Di tempat umum loh :(

Pembalut sekali pakai ada semacam beberapa tipe bahan. Ada yang cukup mudah dicuci, ada juga yang sulit dicuci. Yang sulit dicuci ini biasanya yang tipis tipis dengan klaim/iklan semacam "kliatan, ngga kliatan". Semakin tipis ketebalannya, semakin susah dicucinya. Sedangkan, membuang sampah/isian pembalut juga tidak disaankan di dalam kloset. Trus dikemanain lagi coba? pusing banget lah kalau sudah begitu :(

Beda cerita kalau pakai menspad. Orang-orang inovatif yang menciptakan menspad sudah tentu memperhatikan jenis bahan yang digunakan. Diantaranya mudah dicuci, mudah meresap, dan lebih cepat kering

3. Tidak perlu repot untuk dimusnahkan 

Setelah dicuci bersih, urusan saya dengan pembalut sekali pakai belum selesai. Lagi-lagi terdoktrin bahwa sampah pembalut itu sampah yang sangat privasi. Jadi, jangan sampai terlihat oleh khalayak umum. Padahal ya sudah dicuci bersih juga sebenarnya. Jadi, biasanya saya harus bakar sampahnya sampai benar benar musnah. Masalahnya, pembalut sekali pakai ini kan memang dibuat dari bahan bahan yang mudah menyerap cairan, dibuat dari semacam kapas kapas tebal. Setelah dipakai dan dicuci, tentu saja sulit untuk dibakar. Saya bisa menghabiskan waktu satu jam di tempat pembakaran sampah, untuk membakar sampah pembalut. Bahkan harus siapkan amunisi kertas-kertas bekas, daun daun kering, atau sampah rumah tangga yang tiba tiba jadi rajin saya ambil dari dapur ibu saya. Tetap saja, sampah lainnya sudah habis terbakar, pembalutnya belum sempurna musnah. Basa

 

4. Mengurangi resiko iritasi 

 

5. Lebih ekonomis